Syair Untuk Negeriku

 

 

Indonesia sejak dulu kala tetap di puja – puja bangsa ……………………………

 

Sepenggal bait lagu yang mengisyaratkan bahwa negeriku Indonesia Raya menjadi primadona bagi umat manusia di seluruh dunia. Akankah itu menjadi bait indah yang tiada bermakna ?

 

Kita tengok sejenak keadaan negeri kita tercinta di zaman dahulu kala

 

Cikal bakal nusantara

 

Pada zaman dahulu di tanah Jawa lahirlah seorang Raja Kertanegara dari kerajaan Singasari. Wah, dari sini sudah terlihat bahwa anak ini membawa darah biru yang bersemayam dalam tubuhnya semenjak dari dalam kandungan. Darah berwarna biru? Bukan ! Anak ini keturunan bangsawan besar dan mewarisi kerajaan dari sang nenek moyangnya. Manusia seperti inilah yang dalam terminologi Jawa disebut sebagai Trahing Kusuma Rembesing Madu atau lengkapnya Trahing Kusuma Rembesing Madu, Wijining Atapa, Tedhaking Andana warih.

 

Kelak Sang Kertanegara dari Singasari inilah yang mencetuskan Ekspedisi Pamalayu untuk menyatukan seluruh kepulauan dibawah pemerintahan Singasari. Ide tersebut merupakan yang pertamakali tercatat dalam sejarah dalam usaha merangkai gugusan kepulauan zamrud khaulistiwa.

 

Babak selanjutnya, lahirlah Sumpah Amukti Palapa

 

Sira Gajah Mada pepatih Amangkubhumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada :


“ Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa,


lamun kalah ring Gurun,


ring Seram,


Tanjungpura,


ring Haru,


ring Pahang,


Dompo,


ring Bali,


Sunda,


Palembang,


Tumasik,


samana ingsun amukti Palapa”

 

Gajah Mada mengucapkan sumpah dalam acara penobatannya sebagai Maha Patih Majapahit. Sumpah kemudian di amini oleh Prabu Hayam Wuruk yang menjadi pasangan duet maut untuk menunaikan cita – cita agung Nusantara. Terbentanglah wilayah agung Nusantara dari daratan Indocina atau tanah Melayu sampai sebagian Indonesia bagian Timur, sebagian lagi mengatakan Maladewa yang merupakan surga pariwisata di benua Afrika bagian Selatan juga merupakan wilayah kesatuan Nusantara.

 

Nusa berarti “pulau” , Antara berarti “luar” membentuk kata Nusantara yang berasal dari bahasa Sansekerta untuk menyebut wilayah kekuasaan nun jauh di sana dari kota praja Majapahit.


Sirna Ilang Kerthaning Bumi,
 suryasengkala (kata sanskrit yang menggambarkan kejadian penting di suatu zaman) menandakan tahun 1400 Saka menjadi tahun runtuhnya Ke-Maharajaan Majapahit setelah sebelumnya larut dalam Perang Paregreg yang melelahkan.

 

Bumi gonjang – ganjing langit kelap – kelap katon,


lir kincanging alis,


risang maweh gandrung, O,


sabarang kadulu,


mukir moyag mayig,


saking tyas baliwur, O,

 

Awal abad XX meletuslah Gunung Kelud di Jawa Timur menghembuskan asap vulkanik ke segala arah dan menutupi atmosfer bumi dari terpaan sinar Bathara Surya.

 

Bersamaan dengan itu lahirlah Putra Sang Fajar tepat pada tanggal 6 Juni 1901 yang berdasarkan kepercayaan mistis kejawen lahirnya seorang jabang bayi bersamaan meletusnya gunung berapi akan muncul sebuah era baru yang merubah tatanan masyarakat secara menyeluruh.

 

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (QS. Ar Ra’d:11)

 

Inilah firman Allah SWT yang menjadi gitaku, jadikanlah firman ini menjadi gita mu juga!

 

Bayi mungil yang diberi nama Raden Mas Kusno Sosrodihardjo dan setelah dewasa dikenal dengan sebutan Bung Karno menjiwai lakon “Bima Suci”, sesosok ksatria gagah perkasa yang mencari tirta suci sumber kehidupan hakiki. Beliau berjuang sekuat tenaga memperjuangkan kemerdekaan bangsa guna mengantarkan negeri tercinta ke jembatan emas menuju Indonesia Jaya.

 

17 Agustus 1945 bertepatan dengan bulan suci Ramadhan dimana umat muslim seluruh dunia se-iya sekata melaksanakan rukun Islam ke-4 atas perintah Sang Kholik, dipekikkan lah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sebagai wujud bakti kepada ibu pertiwi.

 

Indonesia merdeka bukanlah tujuan akhir kita.


Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat.

 

Sepenggal kejadian masa lampau jadikanlah kaca benggala untuk kita melangkah jauh ke masa depan agar kita tidak jatuh di lubang yang sama.

 

Sampai detik ini Indonesia Merdeka.

 

Sudahkah rakyat kita merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur ???????

 

Marilah kisanak, yang di dalam tubuhnya mengalir darah Kertanegara


Mengalir darah Gajah Mada


Kita ini keturunan bangsa pejuang


Keturunan pahlawan yang ulet dan tangguh


Elang rajawali, lanjutkanlah perjuangan putra Sang Fajar, gantungkanlah cita – citamu di langit ketujuh


Kepakkan kedua sayapmu sama kokoh


Terbanglah setinggi – tingginya


dan …………………………………


Capailah bintang – bintang di langit

Komentar Anda

%d bloggers like this: